Sidoarjo, nusamediapost.site 29 Desember 2925
<span;>Sokhi Huda
<span;>
<span;>
<span;>Musim Nataru 2025/2026 kembali tiba, membawa gelombang sukacita meriah yang semakin intens di era digital. Jutaan orang mudik melalui jalan tol yang macet, pesta akhir tahun meriah dengan gemerlap lampu natal dan dentuman kembang api, sementara linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat dari berbagai penjuru. Di balik semua keriuhan itu, ada panggilan halus dari dalam diri; panggilan untuk merawat kalbu, sumber penyejuk yang menyatukan keluarga, tetangga, dan sesama manusia lintas keyakinan.
<span;>Dunia digital hari ini penuh sensasi sesaat, berita bohong yang memprovokasi, dan informasi yang berlimpah namun sering miskin hikmah. Dalam situasi seperti itu, refleksi spiritual menjadi oase yang kian langka di tengah kebisingan. Nataru bukan sekadar libur panjang administratif, melainkan kesempatan berharga untuk membersihkan hati dari debu emosi negatif seperti iri, amarah, dan prasangka, agar kita kembali ke esensi kemanusiaan yang tulus dan saling peduli.
<span;>Al-Qur’an mengingatkan, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. al-Ra’d: 28). Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan kalbu tidak datang dari hiruk-pikuk luar, tetapi lahir dari muhasabah (koreksi) diri dan ingatan yang jernih kepada Yang Mahasumber ketentraman.
<span;>
<span;>Warisan Nusantara yang Inspiratif
<span;>Refleksi ini mengajak kita menyelami perjalanan pencerahan batin, dari intuisi pribadi yang samar-samar menjadi praktik sosial yang inklusif dan membumi. Di Nusantara yang kaya warisan spiritual, tokoh seperti Hamzah Fansuri menjadi teladan penting. Penyair Aceh abad ke-16 ini mengajarkan harmoni batin melalui puisi tasawuf yang merangkul budaya lokal, menjadikan spiritualitas sebagai jembatan antarwarga, bukan tembok pemisah.
<span;>Puisi-puisi Hamzah Fansuri seperti “Syair Si Burung Pingai” mengalir seperti sungai yang menyuburkan. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa kalbu yang tenang mampu meredam konflik sosial dan membangun persaudaraan lintas budaya. Warisan semacam ini relevan saat libur Nataru: etika berbagi kebaikan digital menjadi ujian zaman, bukan provokasi atau hoaks, tetapi pesan penyemangat yang menyejukkan.
<span;>Syekh Nawawi al-Bantani melengkapi ajaran ini dengan penekanan tazkiyatun nafs. Pembersihan jiwa dari hasad, ujub, dan takabbur membuat kalbu lebih peka melihat kebaikan, bahkan di tengah perbedaan keyakinan. Tradisi Nusantara ini membuktikan, bahwa spiritualitas inklusif lahir dari hati yang bersih.
<span;>
<span;>Praktik Sederhana di Libur Nataru
<span;>Di era informasi berlimpah tetapi langka hikmah, Nataru dapat mejadi pengingat selektif apa yang diserap oleh kalbu. Libur panjang ideal untuk latihan transformatif: matikan notifikasi ponsel semalam, duduk bersama keluarga lintas agama dan berbagi cerita, kunjungi tetangga non-Muslim sambil membawa kue kering sebagai tanda silaturahmi.
<span;>Kementerian Agama dalam Surat Edaran Nataru 2025/2026 menekankan keselamatan mudik, toleransi beragama, dan menghindari perayaan yang berlebihan demi harmoni sosial. Kebijakan ini selaras dengan upaya menyejukkan kalbu: perayaan proporsional menjaga keseimbangan sosial-ekologis, tanpa kehilangan kepekaan sosial. Praktik ini mengubah Nataru dari sekadar hiburan menjadi ruang perawatan kalbu kolektif. Alih-alih perdebatan grup WhatsApp, pilih pesan “Selamat libur, jaga Kesehatan” dapat menjadi embun pagi bagi jiwa lelah di polarisasi digital.
<span;>Bagi Indonesia yang majemuk agama dan budaya, Nataru dapat menjadi cermin harmoni sosial kita. Gesekan kecil seperti spanduk provokatif atau parkir masjid yang penuh dapat membesar jika tidak dikelola secara bijak. Refleksi spiritual mengajarkan kerendahan hati, empati,
dan mendengar tanpa menghakimi, seperti air sungai yang tenang melewati bebatuan. Hadis Nabi SAW memperkuat hal ini: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging; jika baik, baiklah seluruh tubuh… itulah hati.” Jika kalbu kita jernih, bermasyarakat pun ikut harmonis.
<span;>Mari kita jadikan Nataru 2025/2026 titik balik, belajar menjadi penyejuk bagi orang lain—dari keluarga hingga komunitas—bukan pemantik perselisihan. Spiritualitas sejati teruji dalam relasi sosial di momen ini.
<span;>Mari kita rawat kalbu sebagai penyejuk abadi. Gemerlap Nataru sementara, tetapi hati terlatih terus memancar. Biarlah hati menjadi mercusuar kedamaian, menyinari generasi mendatang.
<span;>Harmoni lahir dari kalbu yang tenang penuh kasih. Nataru dapat menjadi waktu yang tepat memulai latihan itu. Selamat berintrospeksi, semoga membawa kedamaian bagi keluarga, tetangga, serta bangsa yang beragam. Amin.
<span;>
<span;>
<span;>Data Penulis:
<span;>Sokhi Huda
<span;>Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya
<span;>Email: sokhi.huda@uinsa.ac.id
<span;>HP: <span;>082230182999
<span;>
<span;>
<span;>
<span;>
<span;>
<span;>
